Sep 20 2010

Cerita Inspirasi dari Teman

Published by under Academic

Nama   : Agus Alim Hakim

NRP    : C24100031

Laskar             : 26

Ical adalah teman SMA saya yang penuh kejutan. Pertama mengenalnya,orang akan menilai bahhwa ia orangnya sombong, cuek dan sedikit nakal. Itu yang dirasakan  kami semua rasakan saat pertama kali sekelas dengannya saat memasuki jurusan pada SMA lebih tepatnya kelas 2 SMA.

Namun, lama kelamaan penilaian itu berbeda dengan kenyataannya. Dia ternyata orangnya baik, humoris, tapi butuh waktu sedikit lama untuk menyadari karena humornya tingkat tinggi. Dan sifat cueknya memudar dengan sendirinya. Dia cuek karena merasa malu untuk berceloteh sesuka hatinya.  Sifat cueknya dari hari kehari semakin berkurang. Itu terbukti saat adanya turnamen sepak bola antar kelas seSMA yang pada waktu itu sempat hampir terjadi perkelahian antarkelas, sifat kekeluargaan  kami sekelas saat itu sangat kuat. Kami menjadi terbuka. Bahkan sekarangpun lebih solid lagi.

Ical memiliki nomor absen tepat setelah saya, yaitu 2,sedangkan saya absen pertama. Di sekolah saya terkenal jago fisika karena pernah menjuarai OSN, namun saya merasa biasa saja karena sebenarnya masih banyak yang lebih pintar dari saya. Dan suatu hari saat pembagian nilai UTS semester 2 kelas 11, dia mendapat nilai yang hampir mennyamai nilai saya. Dan sialnya, guru kami curiga kalau saya yang mencontekinya. Memang saya sedikit membantunya. Namun,  dia hanya minta diberitahu rumusnya dan dia mengerjakan sendiri. Itu yang membuat saya merasa dia punya kemampuan yang lebih besar dari saya apabila dia mau mengasah potensinya. Tapi guru saya memiliki pandangan lain.

Setelah ujian, kami disibukkan dengan kegiatan mencari universitas untuk kita emban ilmunya setelah kita lulus nanti. Saya termasuk orang yang sangat santai saat itu. Pengumuman PMDK IPB lebih cepat dari pada tes-tes ujian masuk di perguruan tinggi negri lainnya. Dan sayapun tidak mendaftar ke sekolah lain.

Ical mendapat dukungan dari orang tuanya untuk menjadi guru. Namun, dia juga diberi kebebasan untuk menentukan jursan dan universitas yang ingin dia pilih. Akhirnya dia mendaftar di UNNES lewat jalur tes. Tapi dia kurang  beruntung karena belum bisa lolos. Dia tetap semangat untuk belajar dan kadang-kadang dia minta diajari soal-soalyang dia belum tahu dan saya membantu sebisa saya.

Yang kedua, dia mendaftar di UGM. Saat perjalan tes yaitu tempatnya di Semarang. Dia mengalami kecelakaan saat melewati batas Kendal Semarang yaitu jatuh dari motor. Kami bersyukur  karena dia jatuhnya kepinggir jalan bukan ketengan jalan. Kemengkinan paling buruk akan terjadi bila dia jatuhnya ketengah jalan. Dia mengerjakan soal dengan luka dan darah yang menetes dari dagu dan tanggannya yang tidak mau berhenti.

Hasil sesuai dengan usaha pengorbanan dan doa. Icalpun diterima di UGM. Saat registrasi akhir, saya kaget karena Ical tidak mengambil UGM karena faktor ekonomi. Memang, dia berasal dari keluarga yang tidak begitu berada karena kedua orang tuanya menggantungkan hidupnya pada sepetak sawah yang mereka punya. Bila sawah itu dijual,bagaimana nasib kedepannya. Mengapa faktor ekonomi selalu sebagai penghalan orang pintar. Saya sempat marah ke Ical. ”kenapa kamu gag cerita,mungkin kami bisa bantu”.  Akhirnya dia menyirin email untuk minta perpanjangan waktu dan mengajukan beasiswabidik misi. Namun beasiswa itu ditolak karena seharusnya saat penndaftaran saat untuk mengajukan beasiswa. Dan setelah mencari bantuan kepada guru-guru yang saya kenal yang mungkin bisa bantu, hasilnyapun nol. Akhirnya dia melepaskan UGM. Sungguh ical yang malang.

Perjuangan ical tidak sampai disini saja. Dia juga mengikuti SNMPTN dan diapun diterima karena memang dia dasarnya  pintar. Dia saat curhat lewat sms karena saya sudah menjalani matrikulasi. Dia terhalan lagi oleh  faktor ekonomi. Orang tuanya berusaha mencarikan pinjaman uang, sedangkan dia membantu orang tuanya merawat tanaman tembakau yang hapir panen. Saya sangat sedih saat dia sms kalau hasil pannenya murah. Namun akhirnya dia bisa masuk dengan perjuangan keluarganya, masuk  di UNNES pendidikan guru fisika.

Dia masih sering curhat dan diapun minta saran karena dia akan mengikuti tes seleksi guru SBI. Skali lagi, memang dia mempunyai dasar anak pintar, maka dia lolos. Saya sangat salut dengan dia. Sayapun membayangkan dia dan guru fisika saya menjadi rekan kerja. Entah seperti apa nantinya.

“smangad bro!”…..

No responses yet

Sep 20 2010

cerita inspirasi diri sendiri

Published by under Academic

Nama   : Agus Alim Hakim

NRP    : C24100031

Laskar             : 26

Semasa SMA, saya sangat senang ikut organisasi seperti PMR, PRAMUKA, OSIS, dan jurnalistik. Sebenarnya saya ingin sekali mengikuti paskibra. Namun,tinggi badan saya kurang. Dan pramuka bertahan hanya beberapa bulan karena saya  pernah kemalaman dan tidak mendapatkan angkutan karena rumahku berada di daerah bukit dan akhirnya saya mengeluarkan uang lebih untuk membayar ongkos ojek.

Walau rumah saya jauh dari sekolah, saya tetap harus konsisten dengan komitmen saya mengikuti organisasi tersebut walaupun saya sering pulang telat. Dan beberapa kali ibu saya khawatir kerena saya demam akibat kelelahan. Namun saya tetap pada organisasi karena saya rasa organisasi itu tempat mengasah bakat, melatih kepemimpinan, menambah wawasan, menambah teman dan masih banyak lainya. Dengan mengikuti organisasi, saya menjadi lebih menghargai waktu, lebih disiplin, dan supel, serta lebih bisa mejaga kesehatan.

Disamping itu, saya tetap mempertahanankan nilai akademik agar tidak merosot jatuh. Pernah saya mengikuti seleksi OSN tingkat sekolah yaitu mata pelajaran matematika dan fisika. Seleksi matematika saya masuk 25 besar, namun tidak lolos ke tahap 10 besar. Dan pada seleksi fisika, saya masuk 10 besar, dan itupun peringkat 1. Alangkah di sayangkan karena tidak ada seleksi 3 besar dan yang menbuat saya kaget,saat lomba mapel fisika, ditunjuk oleh gurunya berdasarkan nilai fisika pada raport. Saat itu saya merasa kesal karena tidak ada keadilan, apa gunanya seleksi itu? Beda dengan matematika, yang masuk 3 besar diikutkan lomba. Saat itu saya merasa sedikit iri. Tapi saya sadar diri kalau nilai saya memang tidak sebagus mereka. Karena biasanya yang ikut lomba tahun depan adalah yang sudah pernah ikut lomba. Dan saat itu impian menjadi juara OSN terkubur rapar-rapat.

Walaupun saya tidak diikutsertakan pada lomba itu. Saya tidak merasa minder, dan tetap suka dengan pelajaran fisika. Pada saat masuk ke kelas 11, ada ulangan harian fisika, nilai ulangan saya hampir sempurna. Saat itu pula guru saya ingat akan seleksi yang pernah diadakan dulu. Dan menawarkan untuk ikut pelatihan fisika. Dalam hati sangat senang karena ini merupakan jembata emas untuk meraih cita-cita saat di SMA. Sayapun menerima tawaran tersebut.

Akhirnya saya bisa duduk dengan mereka-mereka yang pernah menjadi juara di SMA maupun di SMP. Sayapun tidak mau kalah dengan mereka yang sudah berpengalaman ikut lomba berulang kali. Dengan tekat yang kuat dan dengan usaha yang sudah maksimal, saya siap untuk ikut lomba. Namun, saya merasa masih banyakyang harus saya ketahui dan saya pelajari untuk memenangkan lomba.

Pengumunan lomba menyatakan saya masuk 10 besar pada posisi peringkat 7 dan diharuskan mengikuti babak kedua. Saya mengerjakan sebisa saya karena saya merasa asing dengan soal-soal itu. Pada pengumuman akhir, saya berada pada posisi 6.  Dan saya merasa ini belum cukup dan harus berusaha lebih keras lagi.

Karena sebulan lagi akan ada lomba OSN kabupaten, maka kami digembleng dengan materi dan soal OSN. Akhirnya saya tahu jawaban darisoal lomba maple yang sudah berlalu. Coba kalau diberi materi ini dulu, pasti bisa menaikan peringkat. Lomba OSNpun berlalu dengan hasil peringkat 3. Alhamdulillah, rasa syukur saat itu sangat besar. Dan lebih senang lagi saat tahu kalau yang diikutsertakan ke OSN provinsi 3 besar.

Dengan dukungan dan masukan dari teman-teman, akhirnya saya duduk dengan mantap pada kursi yang di depan saya ada soal yang harus saya kerjakan dengan benar. Dengan peserta yang jumlahnya 100 lebih, saya hanya bisa tembus pada peringkat 20 besar. Saya merasa bangga bisa mengalahkan teman yang peringkat 1 dan 2 dari kabupaten saya yang mereka mendapatkan posisi 40 besar. Disisi lain,saya merasa sedih karena tidak bisa lolos ke OSN nasional. Saya menyadari bahwa saat itu kemampuan saya masih kurang, saya sudah memberikan yang semaksimal mungkin dan perlu kita syukuri apapun hasil dari jerih payah yang sudak kita lakukan. Dan sekarang, saya mmbuat target menjadi juara di IPB tercinta ini.

No responses yet